Waspada Diabetes pada Anak

 

Nama               : Alfiyah Nadine ZAlfaribi

NIM                : 2411604028

Khafillah         : 18 Nani.Wartabone

 

Waspada Diabetes pada Anak

 

Diabetes, penyakit yang dahulu lebih sering dikaitkan dengan orang dewasa, kini semakin marak menyerang anak-anak. Peningkatan kasus diabetes tipe 1 pada anak yang terdata menjadi perhatian serius di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Peningkatan kasus ini sangat memprihatinkan, mengingat dampak jangka panjang diabetes yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 1220 anak yang mengidap diabetes melitus tipe 1 (Nurvita, 2023). Sebuah survei yang dilakukan oleh IDAI mengungkapkan bahwa terdapat 1.645 kasus diabetes pada anak-anak di 13 kota utama di Indonesia, mulai dari Jakarta hingga Manado (Ramadan, 2024). Sayangnya, dari sekian banyak penderita tersebut, bahkan kini setelah meningkat hampir tujuh kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, masih banyak penderita diabetes melitus tipe 1 yang belum mendapatkan penanganan dengan baik karena masih minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengenali gejala diabetes pada anak sehingga tak jarang anak-anak tersebut baru mendapatkan pengobatan saat kondisi sudah memburuk (Nurvita, 2023). Fasilitas kesehatan di daerah terpencil yang tidak memiliki alat dan tenaga ahli yang cukup untuk mendiagnosis penyakit ini secara dini juga menjadi salah satu penyebab diabetes melitus tipe 1 pada anak banyak yang belum tercatat. Setelah diagnosis ditegakkan, tantangan berikutnya adalah akses terhadap pengobatan yang tepat dan berkelanjutan. Insulin dan alat bantu diabetes lainnya memiliki harga yang cukup mahal, sehingga menjadi beban finansial bagi banyak keluarga.

Diabetes sendiri merupakan kondisi yang ditandai dengan hiperglikemia atau tingginya kadar gula dalam darah ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif (Punthakee et al., 2018). Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang dan menghancurkan sel beta dalam pankreas. Sel beta ini bertanggung jawab untuk memproduksi insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah. Akibatnya, penderita diabetes tipe 1 tidak dapat memproduksi insulin, sehingga menyebabkan defisiensi insulin (Marzel, 2021). Kondisi ini biasanya muncul pada masa kanak-kanak atau remaja, tetapi juga dapat berkembang pada masa dewasa. Apabila kadar gula darah terlalu tinggi, maka dapat merusak organ dan jaringan tubuh.

Peningkatan pesat kasus diabetes melitus tipe 1 pada anak-anak di Indonesia telah menyulut keprihatinan yang mendalam. Di balik angka statistik yang terus merangkak naik, tersembunyi ancaman serius terhadap kualitas generasi penerus bangsa. Seperti yang kita ketahui, berdasarkan data epidemiologi, perempuan cenderung lebih banyak mengidap diabetes dibandingkan laki-laki (Ciarambino et al., 2022). Konsekuensi dari kondisi ini sangatlah signifikan, terutama dalam konteks reproduksi. Perempuan dengan diabetes yang tidak terkontrol memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat lahir sangat tinggi (makrosomia), yaitu bayi yang memiliki berat badan lahir di atas 4 kilogram. Bayi makrosomia seringkali mengalami kesulitan persalinan, meningkatkan risiko cedera baik pada ibu maupun bayi. Lebih jauh lagi, risiko genetik juga menjadi sorotan. Anak-anak dengan diabetes ini nantinya akan melahirkan generasi muda di kemudian hari. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu dengan diabetes memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit genetik diabetes di kemudian hari. Hal ini disebabkan oleh paparan gula darah tinggi dalam kandungan yang dapat mengganggu perkembangan metabolisme bayi (Ciarambino et al., 2022). Dengan kata lain, diabetes seakan menjadi warisan turun-temurun yang dapat mengancam kesehatan generasi berikutnya. Pengobatan diabetes yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit terutama untuk jangka panjang semakin memperkeruh masalah, dan menjadi beban berat bagi keluarga, terutama di negara berkembang.

Tidak hanya menyerang fisik, diabetes pada anak secara tidak langsung dapat berdampak terhadap psikologis anak. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak dengan T1DM (Type 1 Diabetes Mellitus) lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental, termasuk gangguan internalisasi dan depresi (Pulungan et al., 2021). Masalah-masalah ini dapat diperburuk oleh faktor-faktor seperti durasi penyakit, komplikasi di masa lalu, dan tekanan orang tua. Diagnosis T1DM di usia yang sangat muda bisa menjadi hal yang membuat batin terpukul. Tak jarang anak menjadi mudah stress akibat disiplin kesehatan yang harus diterapkan semenjak kecil. Belum lagi rasa sakit yang dirasakan ketika dilakukan injeksi insulin atau jika anak menggunakan CGM (Continuous Glucose Monitoring). Baik pemasangan atau pelepasannya bisa menjadi hal yang traumatis bagi anak-anak. Hal-hal tersebut dapat secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup, kinerja akademik, dan kesejahteraan hidup mereka secara keseluruhan.

Mengenai masalah kesehatan mental pada anak dengan diabetes melitus tipe 1, pelayanan kesehatan harus mengenali dan mengakui kebutuhan kesehatan mental anak-anak dengan T1DM. Penilaian rutin harus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah psikologis yang muncul sejak dini. Hal ini memungkinkan intervensi tepat waktu dan mencegah eskalasi masalah kesehatan mental. Keterlibatan profesional kesehatan mental, seperti psikolog dan psikiater, sangat penting. Para ahli ini dapat memberikan perawatan khusus, termasuk terapi, konseling, dan pengobatan, untuk membantu anak-anak mengatasi tantangan emosional dan psikologis yang terkait dengan T1DM. Pendekatan tim multidisiplin, yang melibatkan ahli endokrinologi, ahli gizi, dan penyedia layanan kesehatan lainnya, dapat memberikan dukungan yang komprehensif dan memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan psikologis anak. Dukungan keluarga juga memainkan peran penting dalam kesehatan mental anak-anak dengan T1DM. Orang tua dan pengasuh harus dididik tentang dampak emosional penyakit ini terhadap anak mereka dan diberikan sumber daya untuk membantu mereka mengatasinya. Terapi keluarga juga dapat bermanfaat dalam membina komunikasi yang terbuka, mengurangi stres, dan memperkuat ikatan keluarga.

Untuk mengatasi permasalahan diabetes beserta efek lainnya pada anak, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah. Pihak terkait dapat melakukan edukasi kepada anak-anak, orang tua, dan guru tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat dan rutin berolahraga. Orang tua dan guru berperan sebagai role model dengan menerapkan gaya hidup sehat di lingkungan keluarga dan sekolah dengan memastikan ketersediaan makanan sehat dan bergizi di sekolah dan lingkungan sekitar. Selain itu, dapat dilakukan deteksi dini yakni dengan melakukan skrining diabetes secara rutin pada anak-anak, terutama yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau riwayat keluarga diabetes serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang gejala awal diabetes pada anak agar dapat segera mendapatkan penanganan. Apabila terdapat sekelompok anak yang sudah terdiagnosa terkena diabetes, maka dapat dilakukan pemantauan kadar gula darah secara teratur, pemantauan nutrisi dalam asupan makanan, memberikan pengobatan yang tepat sesuai dengan anjuran dokter, injeksi insulin, dan memberikan konseling kepada anak serta keluarga untuk membantu mereka mengatasi tantangan dalam menjalani hidup dengan diabetes. Perlu dibangun sistem rujukan yang efektif agar pasien dengan diabetes tipe 1 dapat dengan mudah mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Pemerintah dapat membantu  memastikan ketersediaan insulin dan alat bantu diabetes lainnya dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Diabetes pada anak bukanlah takdir, melainkan penyakit yang dapat dicegah dan dikelola. Dengan menerapkan solusi-solusi di atas, kita dapat menciptakan generasi muda yang sehat dan bebas dari diabetes. Penting untuk diingat bahwa pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Mari bersama-sama kita wujudkan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak kita. Dengan menggabungkan upaya dari berbagai pihak, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat bagi anak-anak. Pencegahan diabetes pada anak adalah investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang.

 

Daftar Pustaka

Ciarambino, T., Crispino, P., Leto, G., Mastrolorenzo, E., Para, O., & Giordano, M. (2022). Influence of Gender in Diabetes Mellitus and Its Complication. International Journal of Molecular Sciences, 23(16), 8850. https://doi.org/10.3390/ijms23168850.

Marzel, R. (2021). Terapi pada DM Tipe 1. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(1), 51-62.http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP.

Nurvita, S. (2023). Diabetes Mellitus Tipe 1 pada Anak di Indonesia. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(1), 635–639. https://doi.org/10.31004/prepotif.v7i1.13262.

Pulungan, A. B., Fadiana, G., & Annisa, D. (2021). Type 1 diabetes mellitus in children: experience in Indonesia. Clinical Pediatric Endocrinology, 30(1), 11–18. https://doi.org/10.1297/cpe.30.11.

Punthakee, Z., Goldenberg, R., & Katz, P. (2018). Definition, Classification and Diagnosis of Diabetes, Prediabetes and Metabolic Syndrome. Canadian Journal of Diabetes, 42(1), 10–15. https://doi.org/10.1016/j.jcjd.2017.10.003.

Ramadan, M. P. (2023). Mencegah Diabetes pada Anak Usia Dini. Paudpedia. Diakses nelalui https://paudpedia.kemdikbud.go.id/galeri-ceria/ruang-artikel/mencegah-diabetes-pada-anak-usia-dini?ref=MjAxNS0zZGIxM2YzOQ==&ix=NDctNGJkMWM0YjQ= pada 15 September 2024.

 

Komentar